Tuesday, July 31, 2007

TUNNELS: Ketegangan Menggali Dunia Bawah Tanah yang Tersembunyi

“Aku tahu sejak awal bahwa Harry Potter adalah keajaiban. Dan membaca Tunnels memberiku ketegangan yang sama—menemukan dunia imajinasi di balik kehidupan kita sehari-hari. Pintu Harry Potter ke dunia magic adalah Peron 9 ¾, sedangkan dalam Tunnels, pintu itu lebih sederhana—setiap lobang di bawah kaki kita.”

Itulah komentar Barry Cunningham, editor bertangan dingin yang mengeluarkan Harry Potter dari kamar sempitnya di bawah tangga. Kini, setelah lengkap episode terakhir Harry Potter terbit, saat dunia bertanya-tanya seperti apa dunia setelah era Harry Potter, Cunningham memunculkan kejutan barunya: Tunnels, karya Roderick Gordon dan Brian Williams.

Tunnels berkisah tentang Will Burrows, seorang anak lelaki berusia 14 tahun. Putra ahli arkeologi yang menjadi kepala museum di Highfields itu memiliki hobi melakukan ekskavasi bawah tanah, dengan harapan suatu saat menemukan tambang kuno yang terkubur. Alih-alih menemukan tambang, Will harus kehilangan sang ayah yang raib entah ke mana. Dalam upaya mencari ayahnya itulah, Will menemukan dunia bawah tanah yang tak seorang pun pernah membayangkannya.

Imajinasi mengenai apa saja yang mungkin tersembunyi di bawah tanah inilah yang dieksploitasi Gordon dan Williams dalam Tunnels. Apa saja yang selama bertahun-tahun, bahkan mungkin berabad-abad, terkubur di bawah kaki kita? Mungkinkah ada sebuah dunia yang hilang di sana?

Saat ini, bahkan ketika versi aslinya belum terbit, hak terjemahan Tunnels sudah terjual di lebih dari 30 negara. Namun sebagaimana lorong-lorong bawah tanah yang digali Will Burrows, perjalanan Tunnels sampai ke meja Cunningham pun penuh lika-liku.

Karya yang semula ber judul Highfield Mole itu terpaksa diterbitkan sendiri oleh kedua pengarangnya karena tak satu pun penerbit bersedia menerbitkannya. Kedua pengarangnya menanamkan modal berupa waktu, energi dan tentu saja uang ke dalam buku itu, tanpa tahu apakah semua kerja keras itu akan membuahkan hasil. Berharap hasil penjualan bukunya sekadar bisa menutupi biaya produksi yang terpaksa dikeluarkan dari kocek sendiri itu, Roderick Gordon bahkan menemukan cara promosi yang diumpamakannya sebagai “membalikkan metode mengutil di toko buku”: mengendap-endap, menyelipkan buku karyanya itu ke dalam rak-rak display. Sementara di toko-toko yang bersedia menjual bukunya, dia pun secara sembunyi-sembunyi mengatur display agar karya pertamanya itu tampil menonjol di antara buku-buku yang lain.

Bukan hanya itu, kisah awal penulisan Tunnels bahkan jauh lebih berliku ketimbang kisah Gordon mengatur sendiri display di toko buku. Gordon bersama-sama Williams memulai penulisan buku itu pada 2001, setelah diberhentikan dari pekerjaan mereka sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan di London yang melakukan program efisiensi.

“Aku sangat marah waktu itu, tapi kini aku melihat pemecatan itu sebagai blessing in disguise—karunia tersamar,” kata Gordon, sambil menambahkan bahwa kalau menengok ke belakang mengenang saat itu, sungguh melakukan investasi besar-besaran untuk menerbitkan satu buku, sama sekali bukan hal yang rasional untuk dilakukan.

“Saat itu aku punya setumpuk hutang, namun ini (menulis buku) adalah sebuah obsesi yang harus kulakukan. Impian yang harus jadi kenyataan.”

Dan impian itu pun memang menjadi nyata. Tak kurang dari 1 juta poundsterling uang muka royalty telah diterimanya dari berbagai penerbit di seluruh penjuru dunia yang berebut hak menerjemahkan bukunya. Qanita (Mizan Group) di Indonesia adalah salah satunya. [G]