Judul di atas aku ambil dari judul buku yang dulu pernah diterbitin Femina (Gaya Favorit Press), kumpulan kisah-kisah anak yang penuh kelucuan dan kepolosan. aku ingat kembali buku itu saat bercakap-cakap di depan meja rias pagi tadi dengan anak keduaku, Rafi.
"Sudah bersih cuci mukanya, Mas?" tanyaku sambil mengelus pipinya.
"Sudah," jawabnya sambil mengacak-acak rambut (dia ingin gaya "rancung", seperti biasa)
"Pakai sabun Mama, nggak?"
"Nggak mau ah, itu kan sabun kecantikan!" protesnya.
Aku punya sabun tradisional dari Bali, yang karena terbuat dari bahan-bahan herbal, kurasa bisa untuk menghilangkan kering kulit di pipinya.
"Oh, Mas nggak pengin cantik, ya? Nggak pengin cakep maksud Mama?" tanyaku lagi, membujuknya. Tapi segera sadar pertanyaanku bisa jadi "misleading" baginya, takut jangan-jangan dia hanya menghargai orang dari kecantikan atau kegantengannya, aku pun menambahkan,
"Eh, iya sih, itu nggak perlu-perlu amat. Yang penting orang itu cantik hatinya, cantik perbuatannya,..."
"Cantik tendangannya...." tiba-tiba Rafi memotong.
Membuatku ternganga. Ternganga pertama, karena betapa aku jadi sadar dia benar-benar sedang tergila-gila pada sepak bola. Ternganga kedua, kukira selama ini dia tak banyak tahu soal kosa kata--tapi ternyata dia tahu ungkapan "tendangan yang cantik", dan dengan tangkas menggunakannya untuk menyahut perkataanku....
So begitulah, kurasa aku harus sering ingat ungkapan dalam judul buku itu "Mama lihatlah aku!"
Lihatlah anakmu, Mama, dengan sebenar-benarnya melihat....