
Pagi ini aku mengantar Rahmi ke dokter. Kami naik kendaraan umum menuju klinik langganan kami, Asri Husada di Jl. Bekamin. Turun dari angkot, kami naik becak. Pada kayuhan pertamanya Mang Becak itu langsung bertanya, "Pulangnya ke mana, Neng? Biar Mamang tungguin."
Kujawab, "Wah, jauh Mang, ke Sarimas...."
"Biarin nggak apa-apa, Mang tungguin, ya,"
"Wah, nggak usah, Mang. Sarimas itu dekat Arcamanik. Nanti Mang baliknya ke sini kan kosong, kasihan."
"Nggak apalah. Sok berapa aja dibayar Mang ridho."
"Nggak usah, Mang," kataku sambil turun. Becak sudah sampai di klinik. Aku serahkan uang 5 ribu ongkos becak itu, lalu masuk, mendaftar. Rupanya Mang Becak itu tak mau menyerah. Dia parkir becaknya sebentar dan memburuku ke tempat pendaftaran klinik.
"Mang antar pulangnya ya, Neng. Pasti nggak lama, da."
"Aduh, punten, Mang. Terima kasih, tapi nggak usah. Punten pisan," jawabku, gantian kini aku yang memohon-mohon agar dia meninggalkanku. Dia pun menyerah pergi. Aku sedikit menyesal, mengapa aku tidak menyuruhnya menunggu untuk mengantar kembali kami ke jalan raya tempat kami menyetop angkot pulang nanti.
Seusai periksa dokter, keluar klinik ada taksi lewat, berisi penumpang.
"Mau nunggu taksi itu balik lagi keluar?" tanyaku pada Rahmi. Dia sepakat dan kami pun menunggu. Selain praktis kalau naik taksi kami akan diantar sampai depan rumah, tak perlu jalan kaki saat masuk kompleks perumahan, sebenarnya aku juga ingin menghindar dari Mang Becak yang tadi mengantar kami. Pasti dia kini sudah menunggu penumpang di ujung Jl. Bekamin di depan sana, dan kalau melihat kami, aku khawatir dia akan "merengek-rengek" meminta agar dapat mengantar kami pulang.
Tapi taksi tak kunjung datang, sementara Rahmi yang lemas ingin cepat pulang. Akhirnya kami pun berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkot. Benar saja. Di ujung jalan itu, Mang Becak tadi sudah kembali ngetem. Tapi untunglah dia sedang baca koran, jadi aku berharap dia tak melihat kami. Aku pun mengajak Rahmi mempercepat langkah. Tapi...
"Neng..neng...!!!"
Aku pura-pura tidak mendengar dan terus mau menyeberang. Ya ampun! Dia turun dari becaknya dan berlari mengejar kami.
"Ayo Mang bantu menyeberang...."
Oh!?
Dia pun melambai-lambai meminta mobil-mobil di jalan itu melambat, memberi kami jalan menyeberang.
"Terima kasih, Mang...."
"Mangga...."
Dari dalam angkot, aku melihatnya kembali menyeberang menuju becaknya, kali ini membantu menyeberangkan seorang ibu tua.
"Ternyata dia memang suka menolong....Baik ya," kataku pada Rahmi
"Tapi aneh...memaksa."
Ya, entahlah. Mungkin kita yang aneh, karena tak bisa menangkap ketulusan orang yang mau menolong.... Mungkin zaman ini yang aneh. Karena jarang orang baik, orang berniat baik pun jadi tampak aneh....
Hm... aneh....[gerinda]
Kujawab, "Wah, jauh Mang, ke Sarimas...."
"Biarin nggak apa-apa, Mang tungguin, ya,"
"Wah, nggak usah, Mang. Sarimas itu dekat Arcamanik. Nanti Mang baliknya ke sini kan kosong, kasihan."
"Nggak apalah. Sok berapa aja dibayar Mang ridho."
"Nggak usah, Mang," kataku sambil turun. Becak sudah sampai di klinik. Aku serahkan uang 5 ribu ongkos becak itu, lalu masuk, mendaftar. Rupanya Mang Becak itu tak mau menyerah. Dia parkir becaknya sebentar dan memburuku ke tempat pendaftaran klinik.
"Mang antar pulangnya ya, Neng. Pasti nggak lama, da."
"Aduh, punten, Mang. Terima kasih, tapi nggak usah. Punten pisan," jawabku, gantian kini aku yang memohon-mohon agar dia meninggalkanku. Dia pun menyerah pergi. Aku sedikit menyesal, mengapa aku tidak menyuruhnya menunggu untuk mengantar kembali kami ke jalan raya tempat kami menyetop angkot pulang nanti.
Seusai periksa dokter, keluar klinik ada taksi lewat, berisi penumpang.
"Mau nunggu taksi itu balik lagi keluar?" tanyaku pada Rahmi. Dia sepakat dan kami pun menunggu. Selain praktis kalau naik taksi kami akan diantar sampai depan rumah, tak perlu jalan kaki saat masuk kompleks perumahan, sebenarnya aku juga ingin menghindar dari Mang Becak yang tadi mengantar kami. Pasti dia kini sudah menunggu penumpang di ujung Jl. Bekamin di depan sana, dan kalau melihat kami, aku khawatir dia akan "merengek-rengek" meminta agar dapat mengantar kami pulang.
Tapi taksi tak kunjung datang, sementara Rahmi yang lemas ingin cepat pulang. Akhirnya kami pun berjalan menuju jalan raya untuk mencari angkot. Benar saja. Di ujung jalan itu, Mang Becak tadi sudah kembali ngetem. Tapi untunglah dia sedang baca koran, jadi aku berharap dia tak melihat kami. Aku pun mengajak Rahmi mempercepat langkah. Tapi...
"Neng..neng...!!!"
Aku pura-pura tidak mendengar dan terus mau menyeberang. Ya ampun! Dia turun dari becaknya dan berlari mengejar kami.
"Ayo Mang bantu menyeberang...."
Oh!?
Dia pun melambai-lambai meminta mobil-mobil di jalan itu melambat, memberi kami jalan menyeberang.
"Terima kasih, Mang...."
"Mangga...."
Dari dalam angkot, aku melihatnya kembali menyeberang menuju becaknya, kali ini membantu menyeberangkan seorang ibu tua.
"Ternyata dia memang suka menolong....Baik ya," kataku pada Rahmi
"Tapi aneh...memaksa."
Ya, entahlah. Mungkin kita yang aneh, karena tak bisa menangkap ketulusan orang yang mau menolong.... Mungkin zaman ini yang aneh. Karena jarang orang baik, orang berniat baik pun jadi tampak aneh....
Hm... aneh....[gerinda]
Catatan: Gambar becak di atas dipinjam dari http://jakartadailyphoto.com
No comments:
Post a Comment